Yahoo...aku kembali lagi :3
kali ini mau ngeshare fanfic Kwangmin x OC :3
please like yaa..komen juga kalo bisa XD
tapi baca juga gapapa kok ini kan cuman share aja :3
Can I Have Your Heart?
Chapter 1 :
Apa kalian pernah berpikir apa yang akan kalian kulakukan kalau kalian tahu kalian akan pergi dari dunia ini?
Tentunya tidak, sama sepertiku yang tidak tahu apa yang harus kulakukan jika kutahu aku akan pergi.
Apa aku sanggup mengatakan perpisahan padamu? Apa aku meninggalkanmu disaat aku belum siap meninggalkanmu?
Aku menyeruput secangkir teh hangat yang dibuatkan oleh suster rumah sakit, cuaca hari ini sedikit dingin mungkin karena musim gugur. Aku melihat pepohonan yang daunnya berguguran. Walaupun berguguran mereka masih indah untuk dipandang.
“Hyerim..” Panggil seorang lembut dari belakang.
Aku menoleh dan menemukan Kwangmin pacarku, sudah 3 tahun kami pacaran “Annyeong, Kwangmin..” sapaku sambil tersenyum kepadanya.
Kwangmin mendekatiku dan menaruh selimut di bahuku “agar kau tidak kedinginan, bagaimana kabarmu?”
Aku mengambil nafas panjang lalu tersenyum “seperti biasa saja.”
Kwangmin hanya tertawa kecil “kau tahu, tadi aku dihukum di sekolah karena ketiduran.”
Aku memukul pundak Kwangmin sambil tertawa “kau pantas mendapatkannya karena kau terlalu nakal.” Kataku lalu menjulurkan lidahku.
Kwangmin tertawa mendengar perkataanku, dan aku tersenyum. Sudah 3 tahun aku menjalani hubungan ini dengannya, semuanya terjadi begitu cepat. Aku ingin mengulang waktu lagi, karena semakin lama aku bersamanya akan semakin buruk untuknya. Aku tak bisa menahannya, karena pada akhirnya aku akan meninggalkannya.
Banyak pertanyaannya yang terngiang dalam pikiranku, seperti apa aku sanggup bertahan dengan penyakit ini? Apa jantungku ini akan berdetak sampai akhir? Apa aku bisa mengatakan selamat tinggal?
Apa keajaiban itu benar-benar ada?
Tanpa kusadari air mataku menetes, aku memandang wajah Kwangmin yang
tampak kaget dengan air mataku. Aku menghapus air mataku lalu tersenyum,
Kwangmin tidak membalas senyumku.Ia membelai lembut rambutku “apa yang kau tangisi, chagi?” tanyanya dengan suara yang benar-benar lembut.
Aku menggeleng kepalaku “bukan karena apa-apa.” Jawabku sambil tersenyum.
Ia tersenyum lemah lalu, melihat ke langit yang terlihat sedikit mendung. Ia berdiri dan mengulurkan tangannya padaku “Ayo, langit sudah mendung.” Katanya sambil tersenyum, aku tersenyum kembali dan mengambil tangannya.
Kami berjalan berdua menuju kamar ruang sakit.
Bolehkah aku meminta waktu yang lebih panjang dan panjang lagi untuk hidup?
Senin, 20 Agustus 2012
Kwangmin, hari ini begitu menyenangkan bukan? Kau menceritakkan banyak sekali pengalamanmu hari ini di sekolah. Aku sangat iri padamu karena kau bisa bersekolah walau, katamu sekolah itu membosankan.
Tapi aku ingin merasakan kebosanan itu, dan kegembiraannya juga yang pasti. Kwangmin, apa aku boleh sedikit egois? Apa aku boleh memintamu disisiku sampai akhir?
Kwangmin, kau adalah orang yang benar-benar kusayangi. Rasa sayangku lebih besar dari bumi ini.. Hahaha..
Kwangmin, mari kita berjuang bersama!!
Aku yakin Tuhan telah menciptakan akhir bahagia untuk kita. Akhir yang membuat air mataku tidak mengalir lagi, akhir yang membuat kita tertawa.
Kumohon bantuannya mulai sekarang!!!
P.S : Saranghae Kwangmin <3
______________________________________________________________________________________________________________Pagi hari yang cerah, aku terbangun dan melihat matahari yang sudah terang. Aku bangun dari tempat tidur. Aku berjalan menuju jendela dan melihat keluar, orang-orang sedang beraktifitas.
Tiba-tiba handphone-ku berbunyi, aku mengambil handphone-ku dan melihat layar yang nama Kwangmin. Aku tersenyum dan segera mengangkat telpon “Yeobseyo?” kataku dengan datar. Pagi-pagi menjahili Kwangmin pasti asyik.
“Nada macam apa itu?!” teriaknya di telpon, aku menjauhkan hpku sedikit dari telingaku takut merusak gendang telingaku.
“Hahaha.. Mianhae.. Aku cuman bercanda.” Kataku tak bisa menahan senyumku walau kutahu ia tak bisa melihat wajahku.
“Baru bangun?” tanya Kwangmin, mendengar dari suaranya pasti dia senang.
“Iya, kau sudah berangkat ke sekolah kan?” tanyaku sambil mengambil air putih dan meminumnya sambil mendengarnya berbicara.
“Sudah, tapi aku masih ngantuk.” Jawabnya lalu menguap.
Aku tertawa mendengarnya “kau harus tidur dengan benar.” Saranku untuknya.
“takkan pernah bisa selama aku tahu besoknya aku harus pergi ke sekolah.” Jawabnya dengan nada yang malas.
“Kamu tak boleh begitu, aku yang harus sekolah di rumah sakit ingin sekali merasakan bersekolah sepertimu.” Kataku dengan suara yang sedih.
Kwangmin yang menyadarinya “aku yakin kau bisa merasakannya.” Kata Kwangmin.
Aku tersenyum “Iya aku tahu.” Jawabku dan mendengar ketukan pintu, sepertinya suster dan dokter telah sampai “Kwangmin, kita bicara nanti dokter sudah sampai.” Tanpa menunggu jawaban aku langsung menutup telponnya.
Aku meletakkan hpku di meja lalu merebangkan tubuhku di kasur, dokter dan suster pun masuk dengan aura ceria yang hampir setiap hari kurasakan.
“Annyeong Choi Hyerim-ah..” sapa suster sambil tersenyum.
Aku hanya tersenyum padanya dan melihat dokter.
~ waktu pemeriksaan skip ~
Aku melihat dokter yang sedang membereskan alat-alatnya “Ehmm…dokter.” Panggil lemah.
Dokter itu berpaling melihatku “Wae?”
“Apa aku boleh sekolah? Maksudku kondisiku..apa kondisiku mengizinkanku untuk masuk sekolah seperti anak seumurku?” tanyaku dengan suara yang sangat pelan tetapi keinginan yang besar.
Dokter itu hanya memandangku lalu, mengambil tasnya “akan kupikirkan.”
Aku melihat langkah dokter itu pergi bersama sang suster keluar dari kamarku “Memang tidak mungkin yah..” lirihku sambil melihat ke jendela.
-
-
-
Aku berjalan di lorong rumah sakit, bosan terus menerus di kamarku. Aku melihat banyak pasien yang sedang duduk atau berjalan-jalan sepertiku, mungkin mereka pasien sepertiku tapi penyakit kita berbeda.
Aku melihat seorang namja, dia terlihat seperti Kwangmin namun bukan Kwangmin. Aku mendekati namja itu dan menepuk pundaknya, namja itu berbalik dan tersenyum padaku.
“Annyeong, Hyerim-ah.” Sapa namja itu sambil tersenyum.
Aku membalas senyum namja itu, dia adalah Youngmin saudara kembar Kwangmin “annyeong.” Balas sapaku.
“Sedang apa?” tanya Youngmin dengan nada yang lembut.
“Jalan-jalan bosan terus menerus berada di kamar.” Jawabku sambil tertawa “kau sendiri apa yang kau lakukan? Bukannya kau sudah sembuh?”
Youngmin mengangguk “aku datang check-up walau sudah sembuh, check-up harus tetap dijalani selama 3 bulan ke depan.”
Aku mengangguk mengerti “berarti 3 bulan ke depan, aku masih bisa melihatmu.”
Youngmin mengangguk “bagaimana kau dengan Kwangmin?” tanyanya tiba-tiba.
Mukaku bersemu merah “3 tahun.” Kataku sambil tersenyum malu.
Youngmin tertawa melihat tingkahku “waktu begitu tak terasa, Hyerim-ah.” Katanya sambil menatap jendela.
Aku hanya mengangguk pelan tanda setuju, benar-benar tak terasa.
“Hyerim-ah, sepertinya aku harus pergi sekarang, sampai jumpa.” Kata Youngmin melihat kearah dokter yang merawatnya.
Aku tersenyum lalu mengangguk “Sampai jumpa.”
Youngmin melangkah mendekati dokter itu, Youngmin memiliki penyakit yang sama seperti tetapi dia beruntung mendapatkan donor lebih dulu daripada aku. Keberuntungnya sempat membuat iri, sangat iri malah. Tapi semakin waktu berjalan, aku semakin mengerti bahwa Youngmin lebih pantas mendapat jantung itu.
Tapi aku yakin pasti suatu saat, aku akan mendapat jantung.
Kuharap…
__________________________________________________________________________________________________________Selasa, 21 Agustus 2012
Kwangminnie, kau tidak menjengukku karena hukumanmu tidur di kelas. Aku merasa sedikit kesepian disini tanpamu <//3 tapi, tidak apa-apa. Ini untuk kebaikanmu biar kau menjadi lebih disiplin.
Kwangmin, jika kita berpisah apa kau akan merindukanku? Kalau diriku akan sangat…sangat…sangat…merindukanmu!!
Tapi kau tahu hari ini aku bertemu Youngmin-ah, sudah lama aku tidak melihatnya sejak dia mendapat donor jantung. Saat aku melihatnya, terlintas dipikiranku kapan aku mendapat donor jantung sepertinya?
Aku ingin keluar dari rumah sakit ini dengan sehat, aku ingin melihatmu tidur di kelas, aku ingin melihat kau dihukum oleh guru karena tertidur. Aku ingin melihatmu Kwangmin.
Hari ini, penyakit kambuh jantungku perih sekali rasanya Kwangmin. Setelah sadar, aku semakin berpikir apakah aku bisa bertahan? Jantungku ini apakah mungkin akan berdetak hingga akhir? Bagaimana jika tidak, apa yang akan kau lakukan?
Kwangmin, ingin rasanya mengulang waktu, waktu dimana aku tidak tahu batas hidupku. Waktu dimana aku bisa bermain dengan puas bersamamu. Aku bahkan meminta pada bintang saat aku tak bisa tidur. Aku ingin terus bersamamu..
Yap…aku ingin terus bersamamu. Tapi kuharap kau tidak, kuharap kau tidak ingin bersamaku. Karena dengan begitu aku tak perlu merasa perih untuk meninggalkanmu.
P.S : Kwangmin, aku rela membiarkanmu pergi.

0 comments:
Post a Comment